Aku, UN, dan Ujian Integritas

Jumat, 12 April 2013 3 komentar

Tak lama, beberapa hari lagi ratusan bahkan jutaan siswa SMA di luar sana akan menghadapi sebuah pertempuran. Pertempuran besar. Sangat besar. Bagi mereka, pertempuran ini adalah pertempuran akhir yang sangat genting. Tak heran mungkin sebagian diantara mereka yang menghalalkan segala cara untuk memenangkannya. Ya, inilah Ujian Nasional. Begitulah UN, sapaan akrabnya, menjadi ajang pertempuran hidup dan mati bagi mereka. Termasuk aku, dulu.

Kawan, dahulu saat aku seperti mereka, kualami sebuah situasi yang begitu menyeramkan. Tepat dua dan lima tahun lalu. Saat masa belajar di SMA dan di SMP mencapai hujungnya. Ada sebuah kisah yang tak mungkin ku lupakan. Kisah yang menyertai berlangsungnya UN kala itu. Sebuah kisah nyata tentang diriku, tentang aku, UN, dan ujian integritas. Tak banyak orang yang tahu tentang kisah ini. Karena pada awalnya aku tak mau menceritakan kisah yang memalukan, bahkan bagiku ini sangat menyeramkan.
Namun kali ini, aku memberanikan diri untuk bernarasi, memaksa jemari untuk menari-nari, menuangkan kisah masa lalu dalam tulisan ini. Ya, ini adalah kisah nyata tentang diriku. Tentang aku, UN, dan ujian integritas.

***

            Sabtu, 3 Mei 2008. Hari itu sekolah diliburkan. Tak lain karena dua hari berikutnya akan dilaksanakan Ujian Nasional tingkat SMP secara serentak di seluruh penjuru tanah air. Pihak sekolah memberikan kesempatan hari tenang  kepada para siswa untuk mempersiapkan diri.
            Jauh-jauh hari sebelumnya, berbagai macam persiapan telah kulakukan. Tambahan jam belajar dari sekolah, belajar kelompok, belajar mandiri, sampai mengikuti berbagai macam try out  yang ada telah ku lalui untuk menghadapi UN. Aku yakin, dengan persiapan ini, aku telah siap untuk menghadapinya, terutama secara mental.
            Aku yang sebenarnya sangat malas belajar di luar jam pelajaran merasa sangat tersiksa dengan keadaan ini. Waktu bermainku tersita hampir sepenuhnya. Hobi bermain playstation, sepak bola, dan segalanya ku tinggalkan untuk persiapan ini. Hampir selama satu semester, kujalani masa-masa penuh keterpaksaan.
            Persiapan telah begitu matang. Keyakinanku semakin tinggi dengan selalu mendapat hasil try out terbaik di beberapa kesempatan yang ku ikuti. Aku yakin. Dan semakin yakin bahwa aku akan lulus dengan baik.
            Beberapa hari berlalu. Dan se;perti yang ku tahu, UN tak pernah lepas dari segala praktik kecurangan. Termasuk hari itu. Sekitar sepekan terakhir sebelum ujian, teman-temanku mengatur “strategi” untuk menghadapi UN. Tujuan mereka satu; LULUS, apapun caranya.
            Di SMP, aku memang dikenal sebagai siswa terbaik di angakatanku. Tak heran, mereka memintaku masuk ke dalam kelompok mereka, berjuang mencapai kelulusan bersama. “Kan kita masuk bareng-bareng, keluar pun harus bareng-bareng. Masa Kamu mau lulus sendirian, Yat,” masih ku ingat rayuan itu.
            Sontak, aku menolak. Dengan sopan ku sampaikan bahwa aku tak berminat. “Aku ingin lulus dengan berkah,” begitu jawabku. Rayuan demi rayuan terus datang mendekat. Dan aku masih setia dengan jawaban pertamaku.
            Tak pelak, hujatan demi hujatan datang menikam. Sebutan egois, tak mau bekerja sama, tak setia kawan, sampah, atau apa lah sebutan lainnya, menghujani hari-hariku di sekolah. Dan aku tetap dengan prinsipku; keberkahan ilmu selama aku belajar di SMP ini salah satunya akan ditentukan jujur tidaknya dalam UN ini.
Hari itu pun tiba. Senin, 5 Mei 2008, Ujian pertama adalah Bahasa Indonesia. Dan tatapan tajam teman-temanku masih setia menemaniku memasuki ruang ujian. Di beberapa sudut, kulihat beberapa kerumunan saling bertukaran kertas. Dan pikiranku tak jauh dari kecurigaan; mungkin itu kunci jawaban.
Benar memang, ku tanya beberapa teman dekatku. “Dapat dari sekolah lain, lumayan lah…” jawab mereka.
Tiga hari berlalu. Selepas ujian Matematika di hari ke tiga, keyakinanku mulai goyah. Soal-soal yang ku dapati selama tiga hari itu jauh dari perkiraan dari soal try out yang ki ikuti selama ini. Aku mulai tak yakin.
Hari terakhir, Ilmu Pengetahuan Alam yang memuat Biologi dan Fisika sebagai bahan ujian tengah menanti. Aku memang tak yakin, terutama karena biolgi dan fisika adalah pelajaran yang cukup sulit untuk dicerna otakku. Dan saat itu dengan sangat menyesal harus melakukan ini. Setengah jam sebelum ujian dimulai, para siswa masih berkerumun di sekeliling ruang ujian. Aku menghampiri teman-temanku. “Boleh minta kunci jawaban?” kata-kata itu begitu berat meluncur dari lidahku. Aku tertunduk. Aku malu. Aku telah menjual keberkahan ilmu yang aku pelajari selama tiga tahun dengan kata-kata itu.
Aku masih tertunduk. “Eh, ngapain minta. Katanya gak mau.. Udah belajar aja sana sendiri…,” ucap salah seorang temanku. Mereka berlalu. Dan aku masih tertunduk. Ya sudahlah, kalau memang harus nilai UN IPA ini hancur, maka aku memilihnya hancur dengan disertai kejujuran. Bukan hancur dengan kecurangan yang menyertainya.
Hatta tibalah pengumuman kelulusan. Dan aku ragu dengan hasilku. Aku tak percaya, dan mungkin Kau pun tak kan percaya. Di hari itu langit cerah, bunga-bunga di taman sekolah nampak terlihat merekah. Senyumku meluncur haru saat aku dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan nilai UN tertinggi. Tak percaya. Sungguh aku tak percaya.
Aku bangga. Aku menunjukkan kepada mereka bahwa aku bisa. Dan saat itu aku merasa inilah keberkahan yang Allah berikan.
Sayangnya di satu sisi aku pun kecewa. Aku merasa hina. Ya, saat hari terakhir ujian itulah yang membuatku merasa sangat hina. Saat aku menjual keyakinanku dengan meminta kunci jawaban. Dan kata-kata itu adalah kata-kata yang paling aku sesali selama tiga tahun menuntut ilmu disana. Untunglah, Allah masih melindungiku, melindungi tekadku untuk berbuat jujur.

***

Tiga tahun berlalu. Dengan nilai UN yang cukup tinggi ketika SMP, kini aku masuk ke dalam kelas unggulan di salah satu SMA favorit di daerahku. Dan kini, akan ku hadapi lagi masa-masa yang penuh keterpaksaan; masa-masa persiapan UN.
Seperti biasa di SMA ku, pekan terakhir sebelum UN, selalu ada istighosah. Seluruh sivitas sekolah berkumpul di lapangan utama untuk berdoa bersama. Siswa kelas sepuluh, sebelas, dua belas, seluruh guru dan staff tata laksana, semuanya berkumpul dalam satu suasana. Suasana penuh harap pada Sang Maha Pemberi Ujian.
Hari itu, Kamis, 14 April 2011. Tepat pukul sepuluh pagi, suasana penuh isak tangis. Para guru ber-musafahah bersama seluruh siswa kelas dua belas. Satu-persatu guru menyalami, memeluk, dan mendoakan semua siswa kelas dua belas yang akan melaksanakan UN. Haru. Begitu haru.
Suasana di lapangan masih ramai. Guru-guru telah masuk kembali ke ruangan mereka masing-masing. Dan kami, 350 siswa kelas dua belas masih berada dilapangan, saling berjabat tangan, saling mengeratkan pelukan, dan saling mendoakan. Dan aku berkumpul bersama teman-teman seperjuanganku di Rohis, saling bercanda, dan seskali mengulas kenangan indah selama menjadi aktivis masjid.
Keharuan itu pun terpecah. Seorang siswa kelas dua belas yang sangat ku kenal dengan baik saat itu naik ke atas podium lapangan. Bergegas ia mengambil alih pengeras suara. “Pengumuman,” katanya, “kepada seluruh KM (ketua murid, ketua kelas) dan ketua MPK (majelis permusyawaratan kelas) setelah ini berkumpul di ruangan … Ada yang perlu dibicarakan terkait UN nanti.”
Pengumuman itu memang membuat semua siswa kelas dua belas penasaran, termasuk aku. Tentu saja ini menyangkut UN yang akan kami hadapi.
Satu jam berlalu. Aku bertanya kepada beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan itu tentang apa yang mereka bicarakan. “Ada pengumuman tambahan?Atau ada informasi yang penting??” tanyaku dengan penasaran.
Mengejutkan. Dan sangat mengerikan. Sungguh tak kusangka jawaban yang meluncur dari mulut mereka. “… kita masuk ke sini bareng-bareng, ya kaluar pun harus bareng-bareng. Kita harus lulus semuanya…” Kata-kata itu, sungguh sangat mengingatkanku pada peristiwa tiga tahun sebelumnya. Tak menyangka. Sungguh tak menyangka. Di dalam sana rupanya mereka juga mengatur strategi.
Dalam hati aku berteriak. Goblok. Manusia goblok macam apa mereka. Belum dua puluh empat jam mereka berkumpul, menangis bersama, mengemis kasih dan memanjatkan doa kepada Allah agar bisa lulus ujian. Sekarang mereka berkumpul untuk menentukan strategi agar mereka lulus. Lulus apapun caranya. Tolol. Sungguh tolol mereka. Pengkhianatan macam apa ini. Seberani itukah mereka mengkhianati doa-doa mereka yang baru saja dipanjatkan bersama. Aku sungguh tak habis pikir.
Bergegas aku pulang ke rumah. Sepanjang perajalanan, hatiku terus mengerutu, mengutuki mereka yang, ah, entah apa lah namanya. Sungguh benci. Benci aku mengingat itu.
Persiapan UN SMA ini memang sangat berbeda dengan persiapan UN SMP dulu. Berbagai hasil try out yang aku ikuti menunjukkan hasil yang tak baik. Dan seperti biasa, fisika dan biologi selalu menjadi hantu bagiku. Nilai 6,oo adalah nilai maksimal yang aku dapat dari beberapa kali try out. Deretan angka 5, 4, atau bahkan 3 menghiasi hasil try out-ku untuk kedua pelajaran ini. Entahlah, dosa apa yang membuat otakku sulit mencerna kedua pelajaran ini.
Hasil-hasil try out ini membuatku bimbang. Dan terkadang aku merasa goyah. Aku merasa ragu. Aku merasa tak yakin denga persiapanku. Terkadang, aku berpikir aku harus mengorbankan keteguhan dan kejujuran untuk mencapai predikat kelulusan. Sungguh aku bimbang.
Di tengah kebimbangan inilah, tepat dua hari sebelum UN dimulai, sahabatku, sahabat terbaikku, sahabat seperjuanganku saat di rohis dulu datang bertamu. Entah apa yang membawanya ke rumahku. “Ah nggak, aku hanya ingin main aja ke rumahmu, Yat. Melepas stress sebelum ujian.” Katanya dengan tersenyum.
Di kamar, kami berdua saling bertukar cerita tentang masa-masa indah di Rohis. Masa-masa tak terlupakan yang begitu menakjubkan. Dari yang menggembirakan sampai mengharukan. Semuanya. Benar-benar melepas stress sebelum UN.
Di akhir pembicaraan aku bertanya padanya tentang kebimbangan ini.  Apakah aku harus bertahan dengan idealisme, atau harus melakukan kepicikan untuk mendapatkan kelulusan. “Mau pilih yang mana?” ia tersenyum, matanya menatap dalam.
Sederhana ia menjawab. Diceritakannya kisah Bilal bin Rabbah yang mengorbankan raganya dipanggang panasnya gurun Arab demi agamanya. Diceritakannya pula kisah Mush’ab bin Umair yang rela meninggalkan kegemerlapan dunia dan intervensi orang tuanya demi Agama. “Jika Kau meninggalkan kejujuran demi kelulusan ini, sama saja dengan mengorbankan nilai-nilai yang diajarkan agama. Bandingkan dengan Bilal dan Mush’ab yang pengorbanannya adalah raga dan keluarganya. Jauh, sungguh jauh dengan UN yang hanya hal sepele ini. Relakah dengan UN ini kita menjual kejujuran yang dijunjung tinggi agama ini.” begitu jawabanya. Meyakinkan. Sungguh jawaban yang paling ku nanti atas kebimbangan ini. Meneguhkan. Sungguh meneguhkan.
Minggu malam, dua belas jam sebelum UN dimulai, aku baru saja pulang dari berjamaah isya di masjid. Metro TV saat itu menayangkan Mario Teguh Golden Way, sebuah acara berisi nasihat-nasihat bijak dari Mario Teguh. Tema yang diangkat malam itu adalah tentang menghadapi Ujian. Tentu saja tema itu dipilih karena memang Senin esok UN SMA akan dimulai.
Masih ku ingat kekata Mario Teguh tentang integritas dalam menghadapi ujian, Orang-orang yang berpegang teguh kepada kebenaran, dengan kata lain berintegritas tinggi, seseungguhnya dia telah lulus, bahkan sebelum ujian itu datang. Itu!Kekata itu ia sampaikan dengan gaya telunjuknya yang khas. Satu kalimat lagi sebelum acara itu berkahir, kalimat yang semakin meneguhkan keyakinanku pada pertolongan Allah. “Tuhan sudah sangat terkenal banyak menolong orang-orang yang terdesak,” tutupnya.
Senin pagi tiba. Aku mencium tangan kedua orangtuaku dengan penuh harapan dan doa dari mereka. “Semoga Allah menunjukkan kepadamu bahwa yang benar itu benar, dan yang salah itu salah…” Itulah kalimat yang ibu ucapkan saat ku cium tangannya.
Tepat pukul tujuh aku tiba di sekolah. Yakin. Sangat yakin, aku menebarkan senyum keyakinan, kepada siapapun, bahkan kepada orang yang tak aku kenal. Setngah delapan, seorang guru memerintahkan seluruh pesrta UN berkumpul di lapangan. Beliau memimpin doa. Sebelum ditutup, beliau berorasi. Di akhir orasinya, dengan lantang beliau berkata “ . . . Kalian pasti bisa melewati UN ini dengan kejujuran. Kalian Bisa! Bisa! Pasti Bisa! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar!” Tiga kali kalimat takbirnya itu diikuti oleh seluruh peserta UN. Dan aku, sungguh, kalimat-kalimat takbir yang dengan lantang ku teriakkan itu, sungguh telah menguapkan segala keraguanku. Menguap. Tak ada lagi yang tersisa.
Sama seperti tiga tahun sebelumnya. Masih ku lihat kerumunan orang salin bertukat kunci jawaban. Entahlah, entah dari mana mereka memperolehnya. Dan entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Belum kering mulut mereka meneriakkan takbir di tengah lapangan. Dan aku hanya tersenyum, tekadku telah bulat. Tak mungkin ku khianati doa-doaku, doa ibuku pagi itu, dan doa-doa bersama yang dipanjatkan saat istighosah beberapa hari sebelumnya.
Hari itu dua mata pelajaran diujikan. Bahasa Indonesia dilalui dengan cukup mudah. Sisanya: Biologi. Makhluk ini lagi. Semalaman ku pelajari ratusan soal biologi. Aku tak ingin tersangkut di mata pelajaran ini.
Ujian biologi dimulai tepat pukul sebelas. Empat puluh buah soal dengan durasi dua jam. Saat itu adzan dzuhur berkumandang tepat pukul dua belas. Artinya waktu yang tersisa tinggal satu jam lagi. Ku lihat kembali lembar jawabanku. Menyedihkan. Aku baru membaca sepuluh soal, dan hanya bisa menjawab lima soal. Saat adzan berkumandang itu ku tutup dulu lembar soalnya. Sesunggunnya saat itu air mataku mulai menetes karena merasa tak sanggup lagi. Aku menyerah dengan soal-soal biologi. Namun teman-teman di ruangan ujian saat itu tak ada yang peduli, mereka sibuk dengan lembar soal mereka sendiri.
Ku hayati setiap kalimat adzan yang dikumandangkan. Aku teringat kembali kekata Mario teguh semalam, “Tuhan sudah sangat terkenal banyak menolong orang-orang yang terdesak.” Adzan pun selesai. Sebelum ku buka kembali lembar soal, ku panjatkan doa yang tadi pagi ibu panjatkan. “Semoga Allah menunjukkan bahwa yang benar itu benar.”
Dan kujawab soal-soal biologi itu seadanya, seingat apa yang aku ingat, meskipun saat itu banyak sekali yang tidak aku ingat. Suara bel tepat pukul satu memaksaku mennyudahi derita kala itu. Derita bersama soal-soal biologi.
Menyedihkan memang. Menyedihkan saat aku harus menjawab soal-soal biologi dengan penuh spekulasi. Tapi tak apalah, setidaknya aku tidak lebih menyedihkan dari mereka yang mengorbankan harga dirinya demi secari kertas kunci jawaban.
Di hari kedua, matematika ku lalui dengan penuh perjuangan. Meskipun tak mudah, setidaknya matematika tidak lebih membunuh daripada biologi. Tepat pukul sebelas siang, aku sudah sampai di rumah. Dua malam bergadang bersama soal-soal biologi dan matematika membuat kondisi fisikku turun drastis. Aku memang tak terbiasa bergadang, apalagi untuk mengerjakan soal-soal biologi.
Hari itu aku benar-benar lelah, tubuhku memanas, bintang-bintang berthawaf di sekitar kepalaku, dan hidung ini tak henti-hentinya mengeluarkan cairan. Komplikasi demam, pusing, dan flu saat itu memaksaku untuk membuat keputusan yang berat. Aku memutuskan esok hari tak ikut ujian, dan memilih ujian susulan satu pekan setelahnya. Padahal di hari itu adalah pelajaran yang paling aku unggulkan; kimia dan bahasa inggris. Namun aku tak dapat memaksakan diri. Aku menyerah.
Tepat pukul lima sore, saat itu aku hampir menulis surat permohonan tidak masuk ujian karena sakit. Dering telepon genggam menunda rencanaku. Dan mengejutkan, guru SMP ku dulu, yang juga mengajar pelajaran kimia di SMA lain meneleponku. Aku memang sangat akrab dengan guru yang satu ini. Tak jarang aku sering menemuinya hanya untuk bertanya-tanya tentang kimia.
Sore itu beliau meneleponku, “Kamu ujian paket berapa, Yat?” tanyanya cepat. Aku merasa aneh. Mengapa beliau menanyakan paket ujianku. Bahkan setelah kujawab, beliau langsung memintaku untuk bertemu di kantornya di SMP-ku dulu. Lokasinya memang tak jauh. Bergegas aku pergi ke sana. Aku masih berjalan dengan perasaan yang tak karuan. Penuh tanda tanya, dengan pusing kepala menyertainya.
Sekolah saat itu sangat sepi. Maklumlah, waktu itu sudah menjelang maghrigh.
Tepat saat ku buka pintu kantornya, beliau sedang menonton televisi dengan sebatang rokok di lengan kanannya. “Eh, kesini, Yat,” ajaknya sambil mengambil sesuatu di dalam tasnya.
Aku terkejut. Sangat terkejut. Sungguh sangat terkejut saat kulihat apa yang beliau keluarkan dari dalam tasnya.
“Ini soal Ujian Kimia paket 39 buat besok. Sebelum maghribh kamu baca-baca dulu saja. Biar besok kamu ada gambaran buat dikerjain. Habis maghribh saya mau keluar lagi.”
Sungguh, sungguh aku tak menyangka. Bagiku inilah ujian sebenarnya. Ujian integritas. Sebuah situasi yang sulit, sangat sulit, harus ku hadapi saat itu juga. Sebelumnya aku memutuskan untuk izin tidak mengikuti ujian esok pagi, dan kini soal ujian esok pagi ada di hadapan ke dua mataku.
Tanganku terangkat, bibirku tersenyum. “Engga. Saya mau jujur saja,” jawabku dengan sopan dan sedikit tersenyum. Beliau menatapku. “Serius Kamu mau jujur?” tanyanya dengan sedikit senyum.
“Ia,” jawabku sekali lagi.
Entah siapa yang menuntun lidahku mengatakan itu. Yang jelas, tepat sebelum aku mengeluarkan kata-kata penolakan itu, hati kecilku sempat bergumam “Ya Allah, dua hari ini aku telah menjalani ujian dengan kejujuran. Dan sekarang kesempatan untuk mengotori kejujuran itu hadir di depanku. Lindungi aku dan kejujuran ini.” Ya, aku sempat berpikir, akan sangat disayangkan jika aku harus mengambil lembar soal itu, membacanya, dan kemudian aku akan mengetahui seluruh soal yang akan diujikan besok. Aku berpikir, jika aku melakukan ini, sia-sialah usaha ku dua hari terakhir. Sia-sia lah demam, flu, dan pusing yang hinggap di tubuhku karena bergadang dua malam. Dan sia-sia pula air mataku yang menetes saat ujian biologi kemarin. Sungguh, aku telah memulai semua ini dengan tekad kejujuran. Aku harus mengakhiri semua ini dengan kejujuran pula.
“Ya sudah kalau nggak mau,” kata beliau sambil memasukkan lembar soal itu ke dalam tasnya.
Namun ternyata, godaan tak sampai disitu. Beliau merogoh saku baju safarinya. Secarik kertas putih beliau sodorkan padaku.
“Ini,” katanya,”Kalau nggak mau baca soalnya saya sudah kerjakan. Ini jawabannnya. Kamu lihat saja. Kalau perlu disalin.”
Sekali lagi aku tersenyum. “Nggak usah. Saya mau jujur,” ucapku sekali lagi.
Berkali beliau merayuku. Berkali pula aku menolaknya dengan jawaban yang sama. Beliau akhirnya menyerah. “Ya sudah kalau begitu,” kata beliau dengan sedikit tersenyum, “Saya hanya mau bilang terima kasih kalau Kamu mau jujur. Semoga kamu bisa lulus ya, Yat. Semoga lulus dengan jujur.”
Aku keluar dari kantornya, bergegas menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan aku tersenyum. Aku meras puas. Sungguh amat puas. Hari itu, waktu itu juga, aku membuktikan kekata Mario Teguh. Aku berpegang teguh pada kebenaran, aku lulus sebelum ujian esok hari datang. Dan bagiku, inilah ujian sebenarnya, inilah predikat “lulus” sebenarnya.
Dan hari itu aku merasa benar-benar bahagia. Aku berbahagia karena berhasil menjaga doa-doaku, terutama doa ibuku. Menjaga doa-doa itu dari pengkhianatan paling munafik yang hampir saja ku lakukan. “Terima kasih Ya Allah. Terima kasih atas perlindunganmu,” gumamku dalam hati.
Selepas isya, aku meminum obat flu yang dibelikan ibu dari warung. Sekali lagi, ibu memberiku janji bahwa aku akan sembuh, dan aku kan bisa berjuang esok. Sungguh, janji itulah yang membuatku benar-benar percaya bahwa aku akan sembuh, bukan obatnya.
Pagi itu pun tiba. Flu dan demam sudah berkurang memang, tetapi rasa pusing belum juga hilang. Akhirnya ku minum juga obat sakit kepala yang dibelikan ibu. Dan aku membatalkan rencanaku kemarin hari. Aku akan tetap ujian hari itu. Apapun yang terjadi. Aku yakin Allah akan menolong orang-orang terdesak.
Hari itu dua mata pelajaran diujikan, Bahasa Inggris dan Kimia. Keduanya memang merupakan pelajarn favoritku di kelas. Aku tak terlalu banyak mengulas kedua pelajaran ini karena merasa sudah sangat yakin.
Sesi pertama Bahasa Inggris adalah ujian listening. Seusai sesi itu, aku tak tahan lagi menahan sakit kepala. Aku meminta izin kepada pengawas ujian untuk ke toilet. Aku memang pergi ke toilet, namun setelah itu aku berdiam diri di teras masjid. Hampir sepuluh menit aku terdiam.
Dan aku kembali ke dalam ruang ujian setelah sakit kepalaku sedikit berkurang. Aku menyelesaikan soal-soal Bahasa Inggris dengan rasa pusing di kepala. Untunglah, rasa pusing itu tak terlalu mengganggu. Begitupun dengan kimia. Aku merasa beruntung begitu mencintai kimia. Rasa pusing itu sama sekali tak mempengaruhiku melahap soal-soal kimia.
Ujian tinggal menyisakan Fisika esok hari. Sama seperti biologi, pelajaran yang satu ini cukup sulit untuk ku cerna. Beruntung, seminggu sebelum ujian aku meminjam buku kumpulan rumus-rumus fisika. Di buku itu hanya ditulis ringkasan rumus dengan contoh soalnya. Ku pelajari materi sesuai daftar standar kompetensi lulusan. Aku mempalajari semua soal hitungan. Soal-soal teori ku tinggalakan karena begitu abstrak bagiku.
Kamis, 21 April 2011, adalah hari terakhir ujian. Lembar soal Fisika sebagai menu utama sudah hadir di depan mataku. Ku baca satu persatu semua soalnya. Ternyata komposisi yang ada adalah 60% soal hitungan dan 40% soal teori. Aku sungguh terkejut, terkejut dan tak menyangka. Enam puluh persen soal hitungan itu nampaknya sangat familiar. Ya, seratus persen soal-soal hitungan itu sama persis dengan apa yang kupelajari semalam di buku kumpulan rumus. Persis. Sama persis. Bahkan sampai titik – komanya. Yang berbeda hanya satu, hanya angka-angkanya saja yang diganti.
Jelas sudah, seluruh soal hitungan itu ku kerjakan tanpa hambatan. Dan sejak saat itu aku semakin percaya bahwa Allah benar-benar banyak menolong orang yang terdesak. Dan untuk soal teori, aku memang sudah menyerah. Sisa waktu yang ada hanya ku gunakan untuk menerka-nerka jawaban. Sudahlah, aku sudah merasa yakin dengan enam puluh persen nilai soal hitungan.
Masa-masa ujian itu akhirnya benar-benar berakhir. Berakhir bersama segala ujian yang menyertainya. Aku merasa lega, puas, dan sangat bangga. Terlebih karena aku telah melalui ujian yang ku sebut ujian yang sebenarnya. Sungguh, bagiku itulah predikat lulus yang sebenarnya.
Hari-hari berganti. Waktu-waktu berlalu. Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Hingga sampailah pada hari penentuan. Hari itu, hari pengumuman kelulusan.
Seluruh orang tua diundang ke sekolah untuk menerima surat kelulusan. Suasana begitu ramai. Menegangkan. Mendebarkan. Mengharukan.
Seluruh penjuru sekolah bersorak ketika Kepala Sekolah mengumumkan bahwa SMA kami saat itu lulus 100%. Semuanya lulus.
Dan diantara hiruk pikuk kegembiraan seantero sekolah, aku merasa menjadi orang paling bahagia disana. Kulihat ibuku tersenyum bahagia. Dan aku lebih bahagia. Bahagia karena dapat menjaga kepercayaanmnya, menjaga doa-doanya yang keramat. Menjaganya dari sebuah pengkhianatan dan kecurangan. Sungguh aku merasa bahagia. Sangat bahagia, meski aku harus menerima kenyataan deretan angka enam harus menghiasi ijazah ku. Biologi, Fisika, dan Matematika. Angka enam adalah sebuah angka yang memang pantas untukku. Atau mungkin ini bonus, karena bagiku nilai itu masih terlalu besar untuk kemampuanku mencerna mereka. Ini sungguh anugrah bagiku. Anugrah terindah dari Yang Maha Indah.


Dan anugrah terindah dari ujian ini adalah, saat aku mampu menjaga kepercayaan orang tuaku, menjaga doa-doanya dari pengkhianatan. Dan anugrah terindah lainnya adalah saat aku lulus dari ujian sebenarnya, ujian integritas.

3 komentar:

  • Nada Mufidah mengatakan...

    candu. lapar. buah yang didapat dari kerja keras dan kejujuran.. buah yang didapat langsung dr Allah. memang buah ini yang paling nikmat dan bikin candu.

  • Anonim mengatakan...

    Subhanallah,,
    cerita kamu sangat menginspirasi yat,, betapa penting nilai kejujuran itu dalam diri seorang muslim..
    semoga nilai itu tetap terjaga dalam diri kamu dan kita semua,,
    terima kasih atas ceritanya yg sangat memotivasi..

  • Ode Ngakak mengatakan...

    Bagus.sekali kisah ini, akan selalu ku ingat.dalam hidupku,terima kasih yat

Posting Komentar

 

©Copyright 2013 | Selengkapnya tentang Yayat | Facebook | Twitter |